Sebut Warga Rajin Memilah, Pramono Klaim Sampah ke Bantargebang Turun 500 Ton Sehari
www.bincangekonomi.comǁJakarta,1 September 2026-Volume sampah yang dikirim dari Jakarta ke TPST Bantargebang kini berkurang sekitar 500 ton per hari.
Penurunan tersebut diklaim sebagai salah satu hasil dari gerakan pemilahan sampah yang terus didorong Pemprov DKI Jakarta sejak Mei 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pengurangan kiriman sampah ke Bantargebang berjalan beriringan dengan meningkatnya kesadaran warga untuk memilah sampah dari rumah.
Sampah Dipilah, Kiriman ke Bantargebang Berkurang
Pramono menyebut Jakarta setiap harinya menghasilkan lebih dari 9.000 ton sampah atau sekitar 3,17 juta ton dalam setahun.
Karena itu, menurut dia, penanganan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola lama berupa mengangkut sampah lalu membuangnya ke tempat pemrosesan akhir.
“Dulu polanya adalah angkut-buang. Sekarang menjadi pilah-angkut-olah. Perubahan prinsip ini tentunya memerlukan keseriusan dan kerja sama kita semua agar bisa berjalan dengan baik,” ucapnya dikutip Selasa (1/9/2026).
Gerakan pilah sampah yang dicanangkan pada 10 Mei 2026 pun mulai menunjukkan hasil.
Persentase rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen.
Di sisi lain, pengelolaan sampah organik melalui bank sampah juga meningkat, dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton.
Dampaknya, sampah yang harus dikirim ke TPST Bantargebang berkurang sekitar 500 ton setiap hari.
“Ini tentunya mempunyai makna yang cukup baik bagi kita, sudah on the track. Untuk itu, diperlukan keseriusan dan keberlanjutan dari komunitas dalam pelaksanaan gerakan pilah sampah,” kata Pramono.
Pramono Minta Gerakan Pilah Sampah Konsisten
Meski menunjukkan hasil positif, Pramono menilai gerakan tersebut tidak boleh berhenti sebagai program sesaat.
Ia meminta seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia usaha hingga media, terus terlibat dalam mengurangi persoalan sampah di Jakarta.
“Gerakan ini dan penanganan persoalan persampahan di Jakarta memang betul-betul harus kita tangani secara komprehensif,” tuturnya.
Pemprov DKI juga terus mengembangkan fasilitas pengolahan sampah untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir.
Salah satunya melalui RDF Rorotan yang saat ini disebut mampu mengolah sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah per hari.
Bukan Cuma Urusan Pemerintah
Pramono menegaskan, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Konsistensi memilah sampah dari sumber menjadi bagian penting agar volume sampah yang berakhir di Bantargebang dapat terus ditekan.
Pendiri sekaligus Pimpinan Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, turut menilai perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari lingkungan terkecil.
“Perubahan perilaku harus dimulai dari rumah tangga dan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemprov DKI berharap pengurangan sampah dari sumber dapat terus berlanjut sehingga pengelolaan sampah Jakarta menjadi lebih berkelanjutan.

