Ekonomi Lesu, Pedagang Kopi di Terminal Kampung Rambutan Sepi Pembeli
www.bincangekonomi.comǁJakarta,17 Juni 2026-Terpuruknya daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi turut dirasakan pedagang kopi di Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur.
Di antaranya Rohmah (62), pedagang kopi keliling yang setiap harinya menjajakan dagangan di area keberangkatan bus antar kota antar provinsi (AKAP) di Terminal Kampung Rambutan.
Rohmah mengatakan dalam beberapa waktu terakhir omzet penjualannya anjlok drastis, penyebabnya karena banyak penumpang bus AKAP hingga sopir bus AKAP yang mengurangi pembelian.
“Ekonomi berpengaruh banget, sekarang yang beli enggak ada. Paling cuma ngarep pembelian dari personel-personel (petugas terminal) saja,” kata Rohmah di Jakarta Timur, Rabu (17/6/2026).
Saat daya beli warga masih normal, Rohmah mengaku dapat dengan mudah mendapatkan pembeli dari penumpang, sopir bus AKAP, hingga pegawai perusahaan otobus (PO).
Rata-rata per harinya dia dapat menghabiskan empat hingga lima termos untuk menyeduh kopi yang disajikan kepada pembeli, tapi kondisinya kini menurun drastis.
Meski sudah seharian menjajakan dagangan, Rohmah mengaku kesulitan menjajakan dagangannya dan dalam satu harinya hanya bisa menghabiskan setengah termos saja.
“Kita sehari-hari itu dulu bisa habis sampai empat termos, lima termos. Sekarang untuk habis satu termos saja susah. Dari jam 16.00-20.00 WIB cuma setengah termos, dapat Rp50 ribu,” ujarnya.
Di saat bersamaan dia mengaku harus mengeluarkan modal lebih banyak untuk kebutuhan modal belanja, karena harga kopi kemasan dagangannya juga mengalami lonjakan.
Rohmah menuturkan rata-rata per harinya dia mengaku hanya dapat pulang membawa penghasilan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di rumahnya.
“Sekarang saya jual kopi Rp5 ribu per gelas. Paling ya (pemasukan) dicukup-cukupin, walaupun enggak cukup juga. Apalagi saya juga masih bayarin sekolah anak,” tuturnya.

