Pilah Sampah Jadi Gerakan Masif di Jakarta, Pramono Paksa Hotel-Restoran Olah Sampah Sendiri


www.bincangekonomi.comǁJakarta,11 Mei 2026-Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, gerakan pemilahan sampah dari sumber akan dijalankan secara masif hingga tingkat RT/RW.

Bahkan, Pramono juga akan mewajibkan para pelaku usaha, baik itu hotel, restoran, maupun kafe (horeka) untuk memilih sampahnya sendiri.

Kebijakan ini menjadi upaya serius Pemprov DKI dalam mengurangi beban sampah sekaligus mendorong pengelolaan mandiri dari sumbernya.

Gerakan Masif dari RT hingga Kota

Pramono memastikan, pemilahan sampah bukan sekedar program biasa, melainkan gerakan besar yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

“Jadi, ini gerakannya adalah gerakan yang masif,” kata Gubernur Pramono di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026).

Ia memastikan, instruksi telah diberikan mulai dari tingkat wali kota hingga ke RT/RW untuk memastikan program ini berjalan luas dan konsisten.

“Gerakan ini baru kemarin dimulai, tetapi saya sudah menginstruksikan kepada wali kota, camat, lurah, hingga ke RT dan RW,” ujarnya.

Horeka Diminta Kelola Sampah Sendiri

Tak hanya pasar dan rumah tangga, sektor horeka juga menjadi sasaran selanjutnya dalam program pemilahan sampah.

“Nanti di horeka, hotel, restoran, dan kafe kami juga akan memperlakukan (kebijakan) yang sama. Karena mereka sizenya juga cukup besar,” tuturnya.

Ia menilai, kontribusi sampah di sektor ini cukup signifikan sehingga perlu pengelolaan mandiri di masing-masing tempat usaha.

Target Kurangi Sampah Bantagebang

Jika pemilahan sampah dari sumber dilakukan secara konsisten, volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang bisa ditekan.

“Dan saya meyakini kalau program ini bisa dijalankan, maka ini akan sangat bermanfaat baik untuk mengurangi beban pengiriman sampah ke Bantargebang,” ujarnya.

Langkah ini diharapkan Pramono bisa menjadi solusi konkret untuk mengatasi persoalan sampah Jakarta yang selama ini masih menjadi tantangan.

Kunci Perubahan Wajah Jakarta

Keberhasilan program ini disebut Pramono sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan.

“Yang paling penting adalah ini harus berkelanjutan, tidak boleh berhenti, karena inilah yang akan mengubah wajah Jakarta berkaitan dengan persampahan,” ucapnya.