Gerakan Pilah Sampah Aktif Dilakukan Warga Rorotan, Bisa Tekan hingga 6,5 Ton Sampah Tiap Hari


www.bincangekonomi.comǁJakarta,9 Mei 2026-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menerapkan program pilah sampah dari rumah pada Minggu (10/5/2026) sebagai langkah mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang kondisinya semakin kritis akibat penumpukan sampah.

Di Jakarta Utara, gerakan pilah sampah telah dilakukan warga Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing.

Kolaborasi warga bersama pengurus RT RW, kader lingkungan hingga pemerintah nyatanya bisa menekan volume sampah hingga 6,5 ton per hari dari total produksi sampah harian sekitar 40 ton.

Lurah Rorotan Ahmad Fitroh mengatakan persoalan sampah tidak bisa hanya ditangani pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai penghasil sampah.

“Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga sangat penting karena sampah tidak bisa ditangani pemerintah saja. Masyarakat sebagai penghasil sampah memiliki kewajiban ikut mengolah dan memilah sampahnya sendiri,” kata Ahmad Fitroh, dikutip Sabtu (9/5/2026).

Menurut dia, kondisi daya tampung TPST Bantargebang yang semakin penuh menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk mulai mengubah pola pengelolaan sampah dari sumbernya.

Karena itu, Kelurahan Rorotan bersama Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara menggencarkan edukasi serta penyediaan sarana pendukung pemilahan sampah di lingkungan warga.

Berbagai fasilitas seperti ember organik, drop point, losida, komposter hingga bioreaktor disiapkan di lingkungan RT dan RW.

Setiap RT juga memiliki dua hingga empat titik drop point untuk memudahkan warga membuang sampah organik yang telah dipilah dari rumah.

“Sampah organik yang terkumpul kemudian dibawa ke TPS3R untuk diolah menjadi bubur pakan ternak seperti maggot, ayam, dan bebek. Jadi sampah tidak langsung dibuang ke RDF atau Bantargebang, tetapi dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Ahmad mengatakan gerakan tersebut juga menjadi bentuk dukungan masyarakat terhadap operasional RDF Rorotan agar sampah yang masuk sudah dalam kondisi terpilah dan kering sehingga dapat mengurangi pencemaran maupun bau.

Program pemilahan sampah itu diperkuat melalui Instruksi Wali Kota Tahun 2025 serta Pergub Nomor 77 Tahun 2022 tentang pengelolaan sampah di tingkat RW.

Seluruh elemen masyarakat seperti RT, RW, LMK, Dasawisma, Posyandu hingga Jumantik dilibatkan untuk memberikan edukasi kepada warga.

Ketua RW 07 Kelurahan Rorotan Idil Adha mengatakan tingkat partisipasi warga kini mencapai sekitar 97 persen.

Padahal saat program dimulai, keterlibatan warga baru sekitar lima persen.

“Awalnya banyak keluhan dari warga karena merasa sudah membayar iuran sampah tetapi masih diminta memilah. Namun setelah terus diberikan edukasi dan pemahaman, alhamdulillah sekarang hampir seluruh warga ikut bergerak,” kata Idil.

Ia menjelaskan pengangkutan sampah organik dilakukan tiga kali dalam sepekan.

Sampah yang telah dipilah kemudian ditimbang dan dikirim ke TPS3R maupun RDF dalam kondisi terpisah antara organik dan anorganik.

Menurut Idil, gerakan pemilahan sampah tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular melalui budidaya maggot, ternak ayam, bebek hingga ikan.

Sementara itu, warga RT 004 RW 07 Kelurahan Rorotan, Tina mengaku program pemilahan sampah sangat membantu masyarakat.

Ia mengatakan gerakan tersebut aktif berjalan sejak Januari dan diawali dengan sosialisasi dari pemerintah hingga kader lingkungan.

“Manfaatnya sangat terasa karena pengangkutan sampah jadi lebih mandiri dan sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak. Tantangannya memang harus sabar mengedukasi warga, tetapi sekarang pengurangan sampah di TPS sudah mulai terlihat,” ungkap Tina.