Pengamat: Karakter Humanis Pramono Anung Harus Diiringi Ketegasan Pimpin Jakarta
www.bincangekonomi.comǁJakarta,6 April 2026-Pemerhati Jakarta, Sugiyanto (SGY) menilai ada sejumlah karakter dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung yang berisiko menjadi kelemahan dalam konteks kepemimpinan eksekutif.
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR) itu mengakui Pramono sebagai figur pemimpin dengan rekam jejak yang matang di kancah politik nasional.
Namun, di balik kepiawaiannya menjaga stabilitas, terdapat sejumlah karakter personal yang perlu ditransformasikan agar tidak menjadi celah stagnasi bagi pembangunan Jakarta.
Menurut SGY, ada sembilan karakter personal Pramono yang selama ini dikenal positif, namun berisiko menjadi kelemahan dalam konteks kepemimpinan eksekutif yang menuntut kecepatan dan ketegasan.
Dalam pandangan SGY, sembilan poin yang perlu mendapat perhatian khusus tersebut meliputi, terlalu baik hati, enggan mengecewakan pihak lain, dorongan kuat menjaga situasi tetap kondusif di internal birokrasi serta menghindari konflik terbuka.
Ia juga menyoroti tingkat kepercayaan Pramono yang sangat tinggi kepada bawahan.
Hal itu juga terlihat dari terlalu berhati-hati dalam memberikan sanksi atau rotasi jabatan.
“Kemudian sifat terlalu mengayomi dan melindungi jajaran di bawahnya,” kata SGY.
SGY juga menyoroti minimnya ambisi politik, yang terlihat dari pernyataan hanya ingin menjabat satu periode.
“Selain itu, sikap rendah hati yang berlebih, sehingga kurang menonjolkan terobosan kebijakan baru,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan utamanya bukan menghilangkan sifat-sifat ini, melainkan mengubahnya menjadi kekuatan strategis.
“Misalnya, sifat baik hati harus tetap dibarengi dengan sistem pengawasan ketat agar tidak dimanfaatkan oleh oknum yang hanya mengejar kepentingan pribadi atau sekadar ‘Asal Bapak Senang’ (ABS),” lanjutnya.
Fokus pada Pembangunan Jakarta sebagai Kota Global
SGY menekankan bahwa transformasi karakter ini sangat krusial mengingat kompleksitas masalah Jakarta, mulai dari banjir, kemacetan, hingga polusi udara.
Terlebih, dengan niat Pramono yang hanya ingin menjabat satu periode, waktu yang tersedia sangatlah terbatas.
“Kepemimpinan yang rendah hati harus mulai berani menunjukkan legacy substantif melalui sosialisasi program unggulan di RPJMD 2025–2029 secara maksimal.
Publik ingin melihat hasil nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan,” tegas SGY.
Ia juga mengajak masyarakat Jakarta untuk terus aktif memberikan masukan konstruktif agar pemerintahan tetap berjalan pada rel yang benar.
Termasuk, memberikan masukan dan kritik terhadap kinerja pejabat dan BUMD DKI Jakarta.
“Kami sebagai aktivis yang mengikuti perkembangan Jakarta sejak era Sutiyoso berkomitmen terus memberikan informasi dan solusi kepada Gubernur.
Harapannya, dalam lima tahun ke depan, Jakarta benar-benar mengalami lompatan signifikan di bawah kepemimpinan Pramono Anung,” ujarnya.

